2013 The Year of Divine Breakthrough

Senin, 04 Februari 2013

APA YANG HARUS KITA PERBUAT DI MASA SUKAR SEPERTI SEKARANG INI?



Semua orang tentu mengerti dan memahami bahwa kita pada saat ini sedangn hidup di masa sukar. Harga-harga kebutuhan sehari-hari melonjak seiring dengan naiknya BBM. Harga minyak di pasaran dunia sudah mencapai lebih dari US $ 130 per barrel. Jumlah rakyat miskin di Indonesia bukan semakin berkurang tetapi semakin bertambah terus dari hari ke hari. Hal ini memicu tingkat kriminalitas yang semakin meningkat di pelbagai daerah dalam keadaan krisis multi dimensi semacam ini, apakah yang ahrus kita lakukan sebagai anak Tuhan?

Krisis Samaria
                Bicara soal krisis multi-dimensi, P.L. mencatat tentang sebuah krisis yang jauh lebih parah dari krisis yang sedang terjadi di Negara kita sekarang ini. Kitab 2 Raja-Raja 6:24-29 mencatat tentang krisis multi dimensi yang sangat dahsyat ketika kota Samaria (ibu kota Isrel Utara) dikepung raja Benhadad dari Aram.
                Sembako bukan lagi teramat sangat mahal, tetapi tidak ada barangnya, sampai-sampai rakyat memakan kepala keledai dan kotorang merpati!
                Bukan itu saja, krisis moral yang sangat parah juga terjadi di Samaria. Hal ini dibuktikan dari kisah tentang dua ibu yang saling janji untuk menyembelih anak kandungnya guna dijadikan pengisi perut. Dengan teganya ibu yang pertama membunuh anaknya untuk dijadikan makanan, namun ketika tiba giliran ibu yang ke dua, ia ingkar janji sehingga keduanya bertengkar.
                Kisah tentang krisis Samaria ini berakhir dengan happy-end melalui pernyataan kuasa Tuhan yang luar biasa dimana akhirnya harga sembako jadi teramat sangat murah (padahal kemarin sembako sudah lenyap di pasaran).

Ada lima prinsip rohani yang perlu kita pegang dan praktekkan di masa yang sukar seperti sekarang ini.

Dimasa krisis jangan mencari kambing hitam
                Ketika berhadapan dengan krisis multi demensi, raja Yoram mencari kambing hitam. Ia menyalah-nyalahkan Tuhan. Karena Tuhan ada di sorga tidak bisa dilihat, maka raja Yoram mengarahkan kemarahannya kepada nabi Elisa, itulah sebabnya Yoram pergi hendak membunuh nabi Elisa (2Raja-raja 6:31-33). Naluri alamiah manusia yang sudah jatuh dosa memang “mencari kambing hitam”. Contoh – pada waktu ekonomi Jerman tahun 30-an amat terpuruk, Hitler mengkambing hitamkan orang Yahudi.
                Alkitab menyatakan bahwa masa sukar tidak bisa tidak harus terjadi sebagai bagian dari tanda akhir zaman (2 Timotius 3:1-5). Akibat dosa yang semakin memuncak, timbullah pelbagai krisis multi dimensi di muka bumi ini. Mencari siapa kambing hitamnya sama sekali tidak akan memecahkan masalah, malah menambah masalah saja. Jadi, jangan cari kambing hitam!

Di masa krisis pertahankan iman
                Dalam 2 Raja-raja 7 : 1-2 kita membaca bagaimana ajudan raja Yoram sama sekali tidak percaya terhadap nubuat nabi Elisa yang menyatakan besok harga sembako akan jadi sangat murah. Dengan penuh ketidakpercayaan, ajudan raja ini mengejek nabi Elisa. Dari dua ayat ini kita mendapatkan sebuah pelajaran penting: Dalam keadaan krisis multi dimensi, iman harus dipertahankan dan ditumbuhkan, sebab hal inilah yang merupakan pegangan yang kuat untuk mengatasi krisis.
Tanpa iman (seperti yang terjadi pada diri ajudan raja Yoram), orang akan sulit sekali mengatasi krisis multi dimensi. Kita mendengar dan membaca pelbagai kisah pilu di tanah air mengenai: Ibu yang meracuni anak-anaknya lalu ia sendiri minum racun karena tekanan ekonomi. Kita juga membaca tentang seorang anak SMP yang gantung diri karena malu tidak bisa bayar uang sekolah. Semuanya itu terjadi karena mereka tidak mempunyai bekal iman di masa krisis.

Dimasa krisis lakukanlah sesuatu
Di luar gerbang Samaria ada 4 orang kusta yang menghadapi dilemma pelik. Kalau diam saja mereka mati kelaparan, sebab di dalam kota Samaria juga ada kelaparan hebat. Jadi, jangan diam melulu, pergi ke kemah orang Aram, dengan dua kemungkinan: mati atau dibelas kasihani. Ternyata empat orang kusta ini dipakai Tuhan untuk membawa berita kelepasan dan kemenangan yang luar biasa (2 Raja-raja 7:3dst).
                Pelajaran penting yang dapat kita petik dari empat orang kusta ini adalah: dimasa krisis, jangan diam saja, do something! Perhatikan 2 Raja-raja 7:3 – Mengapa kita duduk-duduk di sini sampai mati? Ini bukan kata-kata biasa! Ini kata-kata yang menunjukkan adanya “fighting-spirit” yang mantap. Coba bedakan dua kalimat yang hamper sama namun amat beda artinya:
Ø  Biarlah kita duduk diam di sini sampai mati – konotasinya negative
Ø  Mengapa kita duduk diam saja disini sampai mati? – konotasinya positif, artinya:
§  Jangan mati sebelum berjuang habis-habisan
§  Lebih baik berusaha dari pada berdiam diri saja
Ada dau pilihan di masa krisis, manakah yang kita pilih?? Duduk diam saja , atau do something??

Di masa krisis tetaplah menabur
                Ketika empat orang kusta itu sampai di perkemahan tentara Aram, mereka melihat tempat logistiknya yang sangat banyak. Dalam tempo sekejap, nasib mereka berubah: Dari papa menjadi kaya raya! Namun dalam 2 Raja-raja 7:9 mereka menunjukkan sikap positif : Mereka tidak mau kelimpahan itu hanya dinikmati sendiri, tetapi mereka membaginya juga bagi seluruh penduduk Samaria!
                Empat orng kusta ini tidak egois dalam arti menikmati berkat untuk diri sendiri saja. Tetapi banyak orang pada di waktu krisis menampakkan wajah egoisnya dengan tidak mau member dan berbagi dengan orang lain padahal semua yang diberikan itu merupakan “benih” yang akan Tuhan tumbuhkan pada waktunya. Kalau tidak ada benih yang ditanam, bagaimana akan menuai?? Contoh jelas menabur dimasa krisis dapat kit abaca dalam kisah janda Sarafat dan nabi Elisa (1 Raja-raja 17:13-16). Pada waktu janda ini memberikan dalam bentuk roti kecil, ia menabur benih yang kemudian jadi panen besar dalam bentuk tepung & minyak yang tidak habis-habis.

Di masa krisis jangan batasi kuasa Tuhan
                Lihat 2 Raja-raja 7 : 17-22 ajudan raja Yoram mati diinjak-injak rakyat yang jadi liar dan sukar dikendalikan karena kelaparan. Pertanyaannya: Apa dosa ajudan raja ini? Ia tidak membunuh, juga tidak mencuri dan berzinah. Dosanya hanya satu : membatasi kuasa Allah! Di masa krisis, jangan sekali-kali kita membatasi kuasa Allah, sebab Ia punya 1001 macam cara untuk menolong & memberkati umatnya!
                Dalam bahasa mandarin, krisis adalah Wei-ji yang terdiri dari dua kata yaitu wei = bahaya dan Ji = kesempatan. Dipisah dua kata ini memiliki arti yang sangat berbeda tetapi apabila disatukan artinya menjadi lain: dalam bahaya ada kesempatan. Kesempatan apa? Kesempatan Tuhan menyatakan kuasaNya yang tak terbatas. Di masa krisis seperti sekarang ini, tetap peliharalah iman, pengharapan dan kasih (1 Korintus 13:13) yang menjadi chanel turunnya berkat & pertolongan Tuhan.

Tidak ada komentar: